Pentingnya Pengangkatan Anak Secara Legal

Oleh Admin

Terbit Selasa, 7 November 2023   Dibaca 14 kali



Kenapa demi masa depan anak saja prosesnya harus panjang dan ribet?

Mungkin pertanyaan itu sempat terlintas di benak beberapa orang yang berminat untuk mengangkat anak—atau istilah yang lebih dikenal adalah adopsi. Calon Orang Tua Angkat harus mengumpulkan dokumen, mendatangi Dinas Sosial kabupaten/kota setempat, menerima kunjungan rumah dari Pekerja Sosial, mendatangi Pengadilan, dan sebagainya. Padahal si anak sudah sangat dekat dan akrab dengan orang tua, tidak perlu diragukan lagi betapa erat hubungan orang tua dan anak tersebut padahal tak ada kesamaan darah. Apalagi jika nanti diproses, anak akan tahu bahwa dia bukan anak kandung dari orang tua tersebut.

Tapi, melakukan proses pengangkatan anak secara legal itu penting lho.

Memang untuk bisa diresmikan sebagai Orang Tua Angkat, salah satu syaratnya adalah mengasuh Anak Angkat selama minimal enam bulan. Jika dikaitkan dengan masa kehamilan, masa pengasuhan tersebut relatif lebih singkat dari masa sembilan bulan. Di sisi lain, durasi enam bulan dianggap durasi yang cukup untuk membangun kelekatan antara Calon Anak Angkat dan Calon Orang Tua Angkat. Jika kelekatan sudah dibangun dan bisa dilihat oleh pihak luar—dalam hal ini Pekerja Sosial yang melakukan kunjungan rumah—akan bisa meyakinkan bahwa Calon Orang Tua Angkat layak untuk menjadi orang tua angkat bagi anak tersebut.

Mari kita bahas apa saja keuntungan jika proses pengangkatan anak dilakukan secara legal dan resmi, hingga diakui di mata hukum.

  1. Status Anak Menjadi Jelas dan Legal

Jika sebelumnya anak adalah merupakan anak terlantar yang dibuang oleh orang tua kandung, dia kemungkinan tidak akan pernah mengetahui siapa orang tua sebenarnya. Namun ada juga kasus di mana pengangkatan anak adalah untuk anak yang berasal dari keluarga dikenal, baik saudara ataupun kenalan. Kedua latar belakang anak tersebut tetap menunjukkan bahwa anak tidaklah memiliki relasi secara langsung dengan Orang Tua Angkat. Misalnya Orang Tua Angkat hanya mengizinkan anak tinggal di rumah, membiayai makan, pakaian, dan sekolah, tapi secara hukum pun anak tersebut adalah Famili Lain, sebagaimana akan tertulis statusnya di Kartu Keluarga. Namun ketika dia sudah resmi diangkat menjadi anak, maka dia akan berhak mendapatkan status sebagai Anak di Kartu Keluarga bersama Orang Tua Angkat.

Jika telah legal, maka anak pun berhak untuk mendapatkan hibah dari Orang Tua Angkat. Dalam Islam, hibah bagi Anak Angkat diberikan tidak melebihi 1/3 dari keseluruhan harta. Jika ditentukan berbeda dalam agama lain, anak pun berhak mendapatkan warisan selama itu memang tercatat sebagai Anak Angkat secara sah.

Ketika di sekolah atau di pergaulan pun, orang lain tidak akan memandang anak tersebut sebagai anak telantar, anak yatim piatu, atau label buruk lainnya. Karena dia memiliki keluarga, memiliki orang tua yang menyayangi dan mengasuhnya. Tidak peduli orang tua itu adalah Orang Tua Angkat, yang terpenting, anak tersebut memiliki orang tua, memiliki keluarga yang utuh pula.

  1. Perlindungan dan Jaminan Anak di Masa Depan

Sekarang kita semakin paham dan tahu apa pentingnya perlindungan dan mempersiapkan masa depan. Mempersiapkan asuransi swasta hingga BPJS kesehatan, mempersiapkan tabungan berencana untuk pendidikan, membuat paspor dan visa untuk kepentingan anak ke luar negeri, itu hal-hal yang bisa dilakukan oleh Orang Tua Angkat, demi perlindungan si anak terhadap hal-hal yang bisa dan pasti terjadi di kemudian hari. Masa depan anak jadi bisa lebih terjamin dengan adanya program-program dari pemerintah atau swasta, yang bisa dia dapatkan dengan lebih baik ketika resmi menjadi seorang anak dari keluarga.

Jika ketika bayi atau ketika kecil hidupnya telantar, memiliki potensi, namun tak yakin bagaimana akan menempuh masa depannya, dengan memiliki Orang Tua Angkat, anak akan lebih terarah, terlindungi, dan terjamin masa depannya. Memang negara akan mengasuh anak telantar sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945, namun pengasuhan terbaik akan tetap, dan selalu saat anak berada dalam keluarga yang menyayanginya.

  1. Orang Tua Angkat Bisa Berperan Sebagai Orang Tua Seutuhnya

Kita tahu bahwa di Indonesia, sebelum anak berusia 18 tahun dan dinyatakan dewasa secara hukum, maka perlu ada orang tua yang mewakili anak tersebut. Baik dalam urusan hukum, urusan sekolah, bahkan kegiatan hiburan seperti menonton konser. Orang Tua Angkat bisa menjadi perwakilan anak dalam menghadapi hal-hal yang belum siap untuk dihadapi oleh seorang anak. Orang Tua Angkat juga akan menjadi pihak yang bertanggung jawab secara utuh dan resmi terhadap setiap hal yang anak lakukan. Bahkan bukan hanya jika hal buruk menimpa anak, namun ketika anak mencapai prestasi, anak mendapat hal yang membanggakan, Orang Tua Angkat pulalah yang paling berbahagia, mendapat pujian, menjadi pihak yang paling berbangga atas pencapaian Anak Angkat, sebagaimana yang dilakukan oleh orang tua kandung.

Tak perlu khawatir jika Anak Angkat mengetahui dia bukan keturunan kandung dari Orang Tua Angkat. Di Indonesia, kita tidak melepaskan nasab orang tua, sehingga hubungan darah akan tetap diketahui. Namun yang terpenting adalah bahwa meskipun Orang Tua Angkat, kita akan menyayangi anak tersebut dengan segenap hati dan perhatian yang kita miliki.


Ditulis oleh Astri Utami Indriyani

Analis Rehabilitasi Masalah Sosial Bidang Rehabilitasi Sosial

Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat