MENANGANI ANAK PENYANDANG DISABILITAS

Oleh Admin

Terbit Kamis, 21 Desember 2023   Dibaca 2 kali



Menjelang Hari Disabilitas Internasional yang jatuh pada tanggal 3 Desember 2023, banyak kegiatan yang telah, sedang, dan akan dilaksanakan untuk memperingati hari tersebut. Namun sebaiknya peringatan ini bukan hanya sekedar seremonial belaka. Tema internasional yang diusung tahun ini adalah “United in action to rescue and achieve the Sustainable Development Goals for, with, and by persons with disabilities.” Jika diterjemahkan secara harafiah, berarti “Bersatu dalam aksi untuk menyelamatkan dan mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan untuk, bersama, dan oleh penyandang disabilitas.” Dari tema tersebut, para penyandang disabilitas berhak dan didukung untuk bisa mencapai pembangunan berkelanjutan. Tujuan-tujuan agar penyandang disabilitas bisa berkembang dan berdaya bisa dilakukan jika kita memahami bagaimana cara menangani dan menghadapi penyandang disabilitas.

Ada yang mengalami kedisabilitasan sejak lahir, ada pula yang saat menginjak usia dewasa. Bagi yang menyandang kedisabilitasan sejak lahir, menjadi tantangan tersendiri dalam menanganinya. Selain anak yang memang memerlukan bimbingan dalam usia perkembangan, perlu usaha ekstra atas kondisi yang dimiliki. Untuk itu, mari kita selami bagaimana cara menghadapi anak penyandang disabilitas. 

Mengenali dan memahami anak adalah hal yang lebih dulu harus dilakukan. Anak penyandang disabilitas bukanlah aib, melainkan anugerah dan merupakan sumber pahala bagi orang tua. Anak mungkin tidak akan berkembang dalam kecepatan yang sama dengan anak lainnya, dia memiliki waktu dan kecepatannya sendiri. Orang tua juga wajib mengenali terlebih dahulu kedisabilitasan apa yang dimiliki oleh anak tersebut. Apa saja tanda-tandanya, bagaimana kondisinya, apakah ada gejala-gejala yang muncul, bagaimana orang tua perlu menyiapkan sumber daya yang sesuai dengan kedisabilitasan anak.

Bagi anak, disabilitasnya bukan ‘hanya’ disabilitas fisik, mental, netra, rungu, wicara, atau daksa. Melainkan lebih beragam turunannya. Dilansir dari buku Menjadi Orang Tua Hebat untuk Keluarga dengan Anak yang Memiliki Disabilitas, yang diterbitkan oleh Kemendikbud pada tahun 2017, anak dengan disabilitas yaitu:

  1. Tunadaksa: anak yang secara umum memiliki ketidakmampuan tubuh secara fisik untuk menjalankan fungsinya;
  2. Tunagrahita: anak yang memiliki tingkat kecerdasan di bawah rata-rata anak seusianya, disertai dengan ketidakmampuan dalam penyesuaian diri dengan lingkungan;
  3. Kesulitan dalam belajar: gangguan dalam membaca (disleksia), menulis (disgrafia), dan berhitung (diskalkulia);
  4. Anak cerdas istimewa dan/atau bakat istimewa: anak yang memiliki nilai kecerdasan yang luar biasa atau mereka yang unggul dalam bidang-bidang akademik dan non-akademik khusus seperti seni, olahraga, dsb;
  5. Tuna laras: anak yang memiliki masalah atau hambatan dalam mengendalikan emosi dan kontrol sosial;
  6. Anak hiperaktif:  anak yang mengalami gangguan perhatian, pengendalian diri, emosi, dan perilaku;
  7. Anak autis: anak yang memiliki gangguan perkembangan saraf yang mempengaruhi kemampuan anak dalam komunikasi, interaksi sosial, dan perilaku;
  8. Tuna netra: anak yang memiliki hambatan dalam penglihatan;
  9. Tuna rungu wicara: anak yang mengalami gangguan pendengaran, baik sebagian atau menyeluruh, dan biasanya memiliki hambatan dalam berbahasa dan berbicara;
  10. Disabilitas ganda: anak yang memiliki lebih dari satu disabilitas

Setelah mengenal jenis disabilitas anak, orang tua memiliki peran dalam pengasuhan anak dengan disabilitas. Perlu diingat bahwa kebutuhan dasar anak akan tetap sama yaitu untuk disayangi, memiliki teman, bermain, belajar, dan mendapatkan pendidikan. Kemendikbud membagi peran orang tua sesuai dengan masa pendidikan yang dijalani, namun secara umum yang perlu dilakukan orang tua adalah:

  1. Belajar menerima keberadaan anak sesuai dengan kekurangan dan kelebihannya
  2. Belajar tentang hambatan perkembangan yang dialami anak, dari buku ataupun ahli
  3. Mencari tahu layanan yang sesuai dengan disabilitas anak
  4. Bergabung dengan paguyuban orang tua yang memiliki anak dengan disabilitas yang sama
  5. Memiliki kegiatan di luar yang dapat memotivasi
  6. Meluangkan waktu untuk rekreasi bersama keluarga
  7. Meluangkan waktu bicara dengan keluarga, teman, dan lainnya
  8. Menjaga kesehatan anak
  9. Belajar meningkatkan kompetensi yang dimiliki
  10. Mendorong anak bermain dan belajar dengan anak lain yang tidak memiliki disabilitas

Setelah memperhatikan anak, menjaga dan membinanya sesuai usia dan memberinya perhatian khusus akan kondisinya, orang tua juga tidak boleh melupakan pentingnya kehidupan pribadi. Kita tidak bisa mengurus orang lain jika kita sendiri juga tidak memiliki kebahagiaan. Orang tua dari penyandang disabilitas perlu:

  1. Merawat diri sendiri. Memiliki waktu istirahat, yang saat ini sering dengan istilah me time. Kita bukanlah robot yang bisa bekerja terus menerus tanpa waktu istirahat. Merawat diri juga berarti mengenali gejala yang terjadi dalam tubuh. Apakah sudah mulai merasakans stres dan lelah, bahkan burn out. Jika itu terjadi, beristirahatlah.
  2. Menjaga keseimbangan merawat anak dan kebutuhan pribadi. Memang orang tua cenderung mengutamakan kepentingan anak. Namun tidak dipungkiri bahwa ada kebutuhan pribadi para orang tua yang harus dipenuhi dan itu sah-sah saja.
  3. Mendapat dukungan dari komunitas dan teman sebaya. Tak harus dari sesama orang tua yang memiliki anak penyandang disabilitas. Namun dari teman-teman sebaya, dari teman sekolah, dari komunitas hobi yang diikuti, dukungan juga sangat berarti. Selain demi ketenangan batin, juga bisa menunjukkan pemahaman dan dukungan dari pihak luar kepada keluarga dengan anak penyandang disabilitas.

Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat juga pernah mengadakan webinar dan salah satu materinya merupakan cerita berbagi dari Ibu Djulaiha Sukmana, S. Sos., M. Kesos yang juga memiliki anak berkebutuhan khusus. Beliau mengutarakan bahwa wajar jika ada fase penolakan—yang waktunya tidak bisa ditentukan seberapa lama, lalu akan menghadapi fase penerimaan, dan akhirnya masa penataan. Banyak hambatan yang dihadapi, yaitu dari diri sendiri, keluarga, lingkungan, bahkan regulasi. Dalam meminimalkan hambatan tersebut, Bunda Juju—sapaan akrabnya—mengatakan bahwa orang tua memberikan pola asuh positif, menulis rencana target yang realistis, secara utuh menerima keberadaan anak, mendorong anak menjadi mandiri, mengajak anak menikmati pengalaman kesalahan, dan tentunya seluruh keluarga menjadi tim dalam pengasuhan.

Bunda Juju menyarankan beberapa hal yang harus dilakukan. Mencari informasi ke sumber yang bisa dipertanggungjawabkan, mencatat skala prioritas yang harus dilakukan, mempelajari klinik, lembaga, dan sekolah yang cocok, menyadari peran orang tua yang sangat dominan, dan merencanakan strategi penanganan secara sistematis. Ada pula hal yang harus dihindari. Menjadi overprotective, terlalu menyayangi, membandingkan, memberikan kasih sayang salah, menaruh harapan tidak realistis, dan menganggap anak lemah dan patah semangat.

Memang tak mudah untuk menjalani keseharian dengan sesuatu yang lain dari biasanya. Tapi perlu diingat bahwa biarpun menyandang disabilitas, anak tetaplah anak. Dia tetap adalah darah daging yang lahir dari kasih sayang orang tuanya. Dia juga berhak untuk tumbuh, mendapatkan kasih sayang, mendapat pendidikan, dan meraih cita-cita yang dia inginkan. Semangat bagi para orang tua dan anak penyandang disabilitas! Semoga dunia ini semakin baik dan layak untuk kita semua tempati tanpa memandang kondisi, melainkan menghargai kita sebagai seorang manusia seutuhnya.


Sumber:

  1. Webinar “Senyum Disabilitas Jawa Barat untuk Indonesia”, Rabu, 07 Desember 2022, oleh Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat
  2. Buku “Menjadi Orang Tua Hebat untuk Keluarga dengan Anak yang Memiliki Disabilitas”, terbit tahun 2017, oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Ditulis oleh:

Astri Utami Indriyani (Analis Rehabilitasi Masalah Sosial Bidang Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat)